Loading...

api yang tak pernah padam

Kategori:
Cerita Pendek
Dibaca:
523 kali
Tanggal:
Selasa, 19 November 2024, pukul 09:04:11
 
Cerpen: "Api yang Tak Pernah Padam"

Pagi itu, Adit bergegas ke sekolah. Di tangannya tergenggam sebuket bunga mawar merah yang ia ambil diam-diam dari taman belakang rumah. Ia tahu hari ini spesial. Guru-guru selalu bilang bahwa tanggal 10 November adalah Hari Pahlawan, hari yang harus diingat, hari untuk mengenang perjuangan para pahlawan.

Di sekolah, upacara berlangsung khidmat. Setelah upacara, Adit berlari kecil menuju monumen pahlawan yang berdiri kokoh di sudut sekolah. Ia memandang patung gagah seorang pahlawan dengan seragam lengkap dan senapan di tangannya, lalu meletakkan bunga yang dibawanya di bawah monumen.

“Terima kasih, Pahlawan,” bisiknya, seakan patung itu bisa mendengar.

Adit membayangkan sosok para pahlawan dalam kisah yang sering didongengkan kakeknya. Tentang para pemuda yang rela meninggalkan keluarga, tentang ibu-ibu yang menyiapkan bekal untuk para pejuang, dan tentang ayah yang tak pernah kembali. Setiap kisah membuat Adit merasa kecil, tapi juga menyalakan bara dalam hatinya untuk menjadi seseorang yang berani dan kuat.

Tiba-tiba, seorang lelaki tua dengan rambut putih berjalan mendekati monumen. Ia memandang patung itu dengan mata yang dalam. Adit memperhatikan kakek itu dari kejauhan, kagum dan penasaran. Ketika lelaki itu hendak pergi, Adit berani bertanya, “Kek, apakah kakek mengenal pahlawan itu?”

Lelaki tua itu tersenyum kecil. “Nak, pahlawan itu ada di setiap hati yang berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan, seperti teman-teman pamanmu dulu,” jawabnya dengan suara tenang namun penuh makna.

Adit tak tahu pasti apa yang dimaksud kakek itu. Namun, ia mengerti satu hal: para pahlawan mungkin sudah tiada, tapi semangat mereka tetap hidup, seperti api yang tak pernah padam. Hari itu, Adit berjanji dalam hati untuk menjadi berani, jujur, dan menjaga setiap pelajaran yang diwariskan oleh para pahlawan yang ia kagumi, selamanya.


Tanggapan

Ahmad Mustofa | Guru
Keren.. kembangkan terus bakat menulismu.
Selasa, 19 November 2024, pukul 11:52:30
Selly Octarina, S.Sos. | Guru
Terimakasih Sarah, karya yg luar biasa, lanjutkan!
Selasa, 19 November 2024, pukul 13:52:34